Perkembangan digital mempengaruhi karakteristik komunikasi Global yang melintasi batas-batas geografis dan budaya. Sementara setiap batas geografis dan budaya memiliki batasan etika yang berbeda.
Setiap daerah memiliki etika sendiri, setiap generasi memiliki etikanya sendiri dengan begitu kita berarti menghargai orang lain. Begitu juga untuk persoalan privasi, biasanya masyarakat Indonesia merasa tidak bermasalah ketika bercerita mengenai penyakit yang dimilikinya. Namun belum tentu masyarakat yang lain nyaman. Atau juga terjadi pada orang tua yang bercerita mengenai anaknya, membangga-banggakan. Namun belum tentu juga anaknya merasa bangga dengan orang tua yang membicarakan dia itu di media sosial.
Bustomi Aripin, penggiat literasi mengatakan, artinya dalam dunia digital kita akan berinteraksi dan berkomunikasi dengan berbagai perbedaan kultur sehingga sangat mungkin pertemuan secara global akan menciptakan standar baru tentang etika oleh sebab itu letak geografis dan budaya memiliki pengaruh besar.
Etika digital merupakan kemampuan individu dalam menyadari, mencontohkan, menyesuaikan diri akan mempertimbangkan dan mengembangkan tata kelola etika digital dalam kehidupan sehari-hari.
“Kita sebagai individu harus selalu menyadari kita hidup bukan hanya di dunia nyata tapi juga di dunia maya. Contohnya perilaku yang baik sesuai kan diri kita rasionalkan apa yang mereka perbuat pertimbangan apa yang kita perbuat,” ujarnya saat mengisi webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 di wilayah Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Selasa (05/10/2021).
Indikator jika seseorang sudah memiliki etika digital, dia mampu mengetahui informasi yang mengandung konten negatif. Pengetahuan tentang interaksi, berkolaborasi di ruang digital sesuai dengan kaidah yang berlaku atau berinteraksi transaksi elektronik.
Jadi, cara beretika digital ketika masuk ke dalam dunia maya, saat membagikan informasi yang jelas tidak ambigu. Sehingga orang tidak menjadi salah paham. Tidak perlu membagi Informasi pribadi yang terlalu jelas. Sebab, bahayanya lebih besar daripada keuntungannya.
“Bahkan, tidak ada manfaat dengan membagikan data atau aktivitas sehari-hari secara berlebihan. Keculai sesuatu yang bermanfaat misalnya tips atau tutorial,” jelasnya.
Memperhatikan tata hukum dan etika, jangan sampai ruang digital membawa kita malah terlibat hukum. Sikapi perbedaan dengan wajar dan bijaksana dengan komunikasi yang baik terlebih saat sedang berdiskusi.
Webinar juga menghadirkan pembicara, Allana Abdullah (Entrepreneur dan Investor Startup), Ronal Tuhatu (Psikolog), Abyani Prastika (Digital Marketer) dan Ida Rhynjsburger sebagai Key Opinion Leader.












