Fenomena globalisasi layaknya dua mata pisau yang bisa menghadirkan dampak positif dan negatif dalam waktu yang bersamaan.
Menurut Isnaini Arsyad sebagai key opinion leader, adanya teknologi dan fenomena globalisasi ini seharusnya bisa menjadikan kita lebih kreatif dan produktif dibandingkan hanya menjadi penikmat konten. Kita juga bisa membuat konten salah satunya dengan memperkenalkan budaya yang kita miliki.
Budaya yang bisa dijadikan konten dimulai dari kuliner, kerajinan tangan, arsitektur rumah adat, kesenian, tari, musik, hingga lagi.
“Kita harus membagikan dan mempromosikan budaya Indonesia karena di dalamnya terdapat banyak nilai-nilai luhur yang bisa kita dapatkan ketika mempelajari kebudayaan tersebut. Nilai-nilai itu gotong royong, toleran, terbuka, disiplin, sopan santun, ramah, dan sebagainya,” tutur Isnaini dalam webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 di Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, Sabtu (09/10/2021).
Ia mengatakan, bahkan dari satu porsi makanan di Indonesia memiliki filosofinya masing-masing. Makanan saja bisa menggambarkan bagaimana beragamnya masyarakat Indonesia. Pada suatu budaya di Indonesia juga terdapat akulturasi dan asimilasi dari budaya lainnya.
Berbudaya juga harus disesuaikan atau disaring mana yang bagus dan sesuai dengan prinsip kita, mana yang tidak sesuai dengan prinsip kita.
Ia menyampaikan, kita juga bisa belajar dari budaya lain di dalam negeri dan di luar negeri. Misalnya, di negara Jepang yang masyarakatnya sangat menghormati dan melestarikan budayanya. Adanya kereta cepat di negara itupun terinspirasi dari budaya tepat waktu masyarakat Jepang. Kemudian, di Bali yang mana masyarakatnya sangat menghargai dan melestarikan alamnya.
“Budaya adalah identitas bangsa. Ketika budaya hilang maka akan hilang juga identitas kita,” imbau Isnaini.
Webinar juga menghadirkan pembicara, Febrianti M. Kristiani (Founder @vitaminmonster), Reza Haryo (Group CFO Floaton Bahari Indonesia), Esa Firmansyah (Relawan TIK Indonesia, Kepala LPPM Fakultas Teknologi Informasi UNSAP), dan Muhammad Miftahun Nadzir (Dosen Entrepreneurship – Universitas Muhammadiyah Yogyakarta).












