Masyarakat kini harus memegang teguh etika meskipun sekarang berinteraksi melalui dunia maya. Di belakang perangkat-perangkat tersebut itu ada manusia maka kita harus bisa menjaga etika.
Dengan berkembangnya teknologi informasi yang kian pesat orang akan menjadi mudah mencari segala macam informasi dan berita namun di saat yang sama berita bohong dapat menyebar ke khalayak ramai.
Rikza Nashrulloh, Ketua Program Studi Sistem Informasi Institut Teknologi Garut mengatakan, kemudahan dan kecepatan yang sama oleh derasnya arus informasi juga harus dibarengi dengan kuatnya menyaring dan mengecek fakta dari informasi yang beredar.
Pada tahun 2020 yang lalu merupakan tahun yang sibuk, bagaimana para pemeriksa fakta mengecek segala informasi karena adanya Covid 19. Banyak hoaks seputar vaksin, tentang jumlah yang terpapar Covid-19 dan lainnya.
Kasus kejahatan siber di Indonesia itu paling banyak adalah penyebaran konten provokatif. Maka, kita harus mengetahui etika-etika, jangan sampai kita mudah percaya informasi ada teman-teman semuanya itu mendapatkan informasi apalagi membagikan.
“Hoaks ialah berita bohong atau informasi yang sesungguhnya tidak benar tetapi dibuat seolah-olah benar adanya dan itu ada karena keberadaan internet. Terkadang, media online itu membuat informasi yang belum terverifikasi benar dan tersebar dengan cepat hanya dalam hitungan detik saja. Suatu peristiwa itu sudah bisa langsung tersebar dan bisa diakses oleh pengguna internet melalui media sosial,” ungkapnya dalam webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 di wilayah Kabupaten Garut, Jawa Barat, Rabu (10/11/2021).
Media sosial berkembang dengan luar biasa bukan hanya untuk dapat bertukar informasi dengan mudah. Namun kini banyak perilaku yang berubah dari penggunaan media sosial ini. Masyarakat Indonesia cenderung kebingungan karena informasi yang benar dan salah menjadi bercampur aduk. Hal tersebut sebetulnya dibuat seseorang atau kelompok dengan beragam tujuan. Biasanya muncul ketika sebuah isu itu muncul banyak kali yang belum terungkap atau masih menjadi tanda tanya.
“Di Indonesia banyak hoaks banyak sejak pemilihan presiden tahun 2014 sebagai dampak gencarnya kampanye di media sosial. Bermunculan kampanye hitam yang menjatuhkan citra lawan politik,” jelasnya.
Dampak perubahan fungsi media sosial harus diketahui. Awalnya media sosial itu dari media pertemanan menjadi media yang digunakan untuk berbagai sarana menyampaikan pendapat politik dan juga mengomentari pendirian orang lain. Maka di Indonesia juga banyak menggunakan media sosial untuk mencari informasi karena adanya krisis kepercayaan terhadap media mainstream seperti TV, radio dan lainnya.
Tujuan orang membuat hoaks juga untuk membuat kemudahan menggiring dan membentuk opini publik. Bahkan public campaign promosi dengan penipuan juga termasuk salah satu tujuan dari hoaks atau ajakan untuk berbuat amalan baik yang sebenarnya belum ada dalilnya sesuai.
Webinar juga menghadirkan pembicara, Littani Watimena (Brand and Communication Strategist), Nindy Tri Jayanti (Entrepreneur), Golda Siregar (Senior Consultant Power Character), dan Lady Kjaernett sebagai Key Opinion Leader.












