Adanya urgensi keamanan digital di berbagai media menuntut kita harus menyadari pentingnya memahami keamanan digital itu sendiri, termasuk di dalamnya melindungi perangkat digital, data pribadi, dan menghindari penipuan digital.
“Kalau kita enggak paham, masih ada celah data-data kita untuk diambil atau dibongkar oleh orang lain,” ujar Diana Bailenda seorang pengusaha dan digital trainer dalam webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 di wilayah Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, Rabu (10/11/2021).
Saat masih kecil, mungkin kita pernah diwanti-wanti untuk tidak menerima pemberian apapun dari orang asing yang tidak dikenal. Sama seperti saat ini, kita tidak boleh memberikan data pribadi yang tidak diperlukan kepada orang asing yang tidak dikenal. Data pribadi ini harus dijaga, baik yang bersifat umum maupun khusus.
Diana menjelaskan, data pribadi yang bersifat umum merupakan data yang tertera pada KTP, seperti nama, tanggal lahir, jenis kelamin, agama, dan lain sebagainya kecuali NIK. Sementara data khusus ini meliputi data biometrik, rekam medis, catatan kriminalitas, pandangan politik, NIK, kartu keluarga, data keuangan, dan data anak.
“Data kita harus dijaga karena bisa diperjualbelikan. Data kita menjadi sasaran empuk pencurian digital karena dijual dengan harga yang mahal,” jelasnya.
Ia menjelaskan, salah satu cara penjahat mengambil data pribadi dengan menggunakan teknik phishing. Dalam paparannya, phising ini bisa dilakukan melalui e-mail ataupun situs. Selain itu, phising dapat dilakukan melalui keyLoggers sejenis pelacakan aktivitas pada perangkat digital terutama pada fasilitas seperti komputer publik, ataupun mengambil data melalui rekening online.
Untuk membedakan email asli atau email phising, kita bisa memeriksanya melalui situs email-checker.net. Masukkan nama pengirim email sekaligus emailnya. Apabila hasil yang keluar adalah bad, berarti email tersebut tidak aman. Sebaliknya, apabila hasilnya ok berarti email tersebut merupakan email asli.
Webinar juga menghadirkan pembicara, Lim Sau Liang (Owner Madame Lim), Heru Tri Wahyoko (Guru SMKN 1 Sindang), Fajar Ramadhan (Pendidik Pesantren Al Urwatul Wutsqo), dan Marcella Vionita sebagai Key Opinion Leader.












