Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan menguasai sepenuhnya Selat Hormuz di tengah ancaman Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang siap mengerahkan angkatan laut untuk mengawal kapal tanker. Sekitar seperlima pasokan minyak dunia melewati jalur sempit dan strategis tersebut, yang kini praktis tertutup akibat perang Amerika Serikat-Israel melawan Iran.
Pejabat Angkatan Laut IRGC, Mohammad Akbarzadeh, menegaskan, “Saat ini Selat Hormuz berada di bawah kendali penuh Angkatan Laut Republik Islam.” Pernyataan yang dikutip kantor berita Fars itu menegaskan posisi Iran setelah Washington menyatakan kesiapan mengirim kapal perang untuk memastikan pengawalan tanker minyak.
Meski demikian, Reuters melaporkan sebuah kapal tanker minyak melakukan pelayaran langka melintasi Selat Hormuz menuju pelabuhan Uni Emirat Arab untuk memuat minyak mentah. Kapal tanker bernama Pola mematikan sistem pelacak AIS saat mendekati selat pada Senin malam, lalu kembali terdeteksi di lepas pantai Abu Dhabi pada Selasa, berdasarkan data pelacakan kapal dan sumber terkait.
Perang Amerika Serikat-Israel terhadap Iran mengganggu rantai pasok global. Aktivitas pelayaran di Selat Hormuz terhenti, sementara penutupan wilayah udara di Timur Tengah membuat penerbangan kargo terpaksa dibatalkan. Reporter Al Jazeera di Teheran, Tohid Asadi, melaporkan IRGC menyebut “mustahil kapal mana pun bisa melintas” dan mengklaim lebih dari 10 kapal tanker telah menjadi sasaran.
Clarksons Research memperkirakan sekitar 3.200 kapal, atau 4 persen dari total tonase kapal global, kini menganggur di kawasan Teluk. Dari jumlah itu, sekitar 1.230 kapal diperkirakan memang hanya beroperasi di wilayah Teluk. Sementara itu, sekitar 500 kapal atau 1 persen tonase global menunggu di luar Teluk, termasuk di pelabuhan lepas pantai Uni Emirat Arab dan Oman.
Ketegangan tersebut mendorong lonjakan harga minyak mentah Brent ke atas US$82 per barel, naik lebih dari 13 persen sejak konflik pecah dan menjadi level tertinggi sejak Juli 2024. Trump melalui platform Truth Social menyatakan Angkatan Laut AS akan segera mulai mengawal tanker di Selat Hormuz. “Apa pun yang terjadi, Amerika Serikat akan memastikan aliran energi bebas ke dunia,” tulisnya, seraya menegaskan kekuatan ekonomi dan militer AS sebagai yang terbesar di dunia.
Di tengah krisis, Pakistan mencari jalur alternatif pasokan energi. Kementerian Energi Pakistan menyatakan Islamabad meminta Arab Saudi mengalihkan pengiriman minyak melalui Pelabuhan Yanbu di Laut Merah. “Sumber Saudi menjamin keamanan pasokan melalui Pelabuhan Yanbu,” demikian pernyataan resmi tersebut, seraya menyebut satu kapal telah dijadwalkan berlayar ke Yanbu untuk memuat minyak mentah bagi Pakistan. Menteri Perminyakan Ali Pervaiz Malik menegaskan sebagian besar impor energi Pakistan melewati Selat Hormuz dan pemerintah terus memantau situasi guna menjaga keberlanjutan pasokan.












