PT Garudafood Putra Putri Jaya Tbk. (GOOD) mencatatkan kinerja positif sepanjang 2025 dengan membukukan penjualan bersih Rp13,12 triliun, meningkat 7,22 persen dibandingkan Rp12,23 triliun pada 2024. Perseroan menyampaikan capaian tersebut dalam siaran pers di Jakarta. Pertumbuhan penjualan turut mendorong peningkatan laba dan perbaikan indikator keuangan lainnya.
Penjualan bersih Garudafood masih didominasi segmen produk makanan dalam kemasan sebesar Rp11,79 triliun. Sementara itu, segmen minuman menyumbang Rp1,32 triliun. Dari sisi profitabilitas, perseroan mencatatkan EBITDA Rp1,51 triliun pada 2025, naik dari Rp1,43 triliun pada tahun sebelumnya.
Laba tahun berjalan yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk meningkat 10,27 persen menjadi Rp688,65 miliar dari Rp624,47 miliar pada 2024. Sejalan dengan itu, laba per saham naik dari Rp16,93 menjadi Rp18,67, mencerminkan peningkatan imbal hasil bagi pemegang saham.
Pada posisi neraca per 31 Desember 2025, total aset Garudafood tercatat Rp9,33 triliun. Perseroan membukukan total liabilitas Rp4,97 triliun dan total ekuitas Rp4,36 triliun, menunjukkan struktur permodalan yang relatif terjaga di tengah ekspansi usaha.
Direktur Farming Garudafood Putra Putri Jaya Rudy Brigianto menyatakan Sumedang memiliki potensi besar untuk pengembangan kacang tanah sebagai bahan baku utama produk unggulan seperti Kacang Garuda dan Kacang Rosta. “Sekitar 95 persen kebutuhan kacang tanah masih impor, padahal potensi dalam negeri mampu memenuhi kebutuhan industri,” ujarnya.
Dalam skema kemitraan yang disiapkan, Garudafood akan bertindak sebagai offtaker atau penyerap hasil panen petani. Perseroan juga memberikan pendampingan teknis budidaya, penyediaan bibit unggul, monitoring produksi, serta menetapkan harga pengaman untuk melindungi petani dari fluktuasi pasar. “Kami menjamin penyerapan hasil panen selama 5 hingga 6 tahun melalui pola kemitraan terstruktur,” kata Rudy.
Ia menambahkan, hasil survei awal menunjukkan sejumlah wilayah di Sumedang memiliki potensi lahan yang memadai untuk pengembangan kacang tanah. Namun, perseroan menilai peningkatan kapasitas petani dan penguatan sarana prasarana pendukung tetap diperlukan agar program tersebut berjalan optimal dan berkelanjutan.












