Drone Shahed buatan Iran menjadi sorotan setelah digunakan secara masif dalam perang Iran melawan Amerika Serikat (AS) dan Israel yang pecah pada 28 Februari 2026. Sejak konflik dimulai, Iran mengerahkan ratusan hingga ribuan drone untuk menyerang kedutaan besar AS di Timur Tengah, sistem radar, bandara, serta gedung-gedung yang terkait dengan AS dan Israel di kawasan tersebut.
Ketua Kepala Staf Gabungan AS Dan Caine menyebut kendaraan nirawak Iran sebagai “ancaman nyata” bagi Washington. Ia menyatakan sistem pertahanan udara AS mampu menghadapi serangan tersebut. Namun, para pengamat menilai klaim itu justru menunjukkan ketimpangan biaya, karena sistem pertahanan mahal digunakan untuk menjatuhkan drone murah.
Satu unit drone Shahed diperkirakan berharga antara 30.000 hingga 50.000 dolar AS, sedangkan satu sistem rudal Patriot bernilai berkali lipat lebih tinggi. Peneliti senior Stimson Center Kelly Grieco mengatakan, “Jika konflik berlangsung lama, mereka harus menemukan cara yang lebih berkelanjutan.” Pernyataan itu mencerminkan kekhawatiran atas keberlanjutan strategi pertahanan AS.
Kyle Glen dari Center for Information Resilience menilai Iran sadar menghadapi kekuatan militer yang lebih unggul sehingga memilih strategi perang asimetris. Drone Shahed diproduksi murah menggunakan komponen dual-use dan diluncurkan dari belakang truk tanpa infrastruktur besar. “Drone ini memang dirancang untuk perang seperti ini,” ujarnya.
Analis Institute for the Study of War George Barros menilai penggunaan sistem mahal untuk menghadapi senjata sederhana menunjukkan AS belum sepenuhnya mengambil pelajaran dari perang Ukraina. Dalam konflik Rusia-Ukraina, Moskwa membeli sekitar 6.000 drone Shahed dari Iran pada 2022 dan telah meluncurkan puluhan ribu unit ke wilayah Ukraina, menurut pernyataan Presiden Volodymyr Zelensky. Ukraina menanggapi ancaman itu dengan sistem pertahanan berlapis, termasuk penggunaan Patriot.
Barros menilai AS kini berada dalam posisi rentan karena permintaan global atas sistem Patriot meningkat, sementara kapasitas produksi hanya sekitar 600 unit per tahun. Kondisi ini membuka peluang bagi Iran untuk terus menembakkan amunisi murah sambil menunggu stok pertahanan lawan menipis. Analis C4ADS Omar Al Ghusbi menyebut situasi ini sebagai “ancaman serius bagi stabilitas.”
Shahed-136 memiliki panjang 3,5 meter dengan bentang sayap 2,5 meter, berat sekitar 200 kilogram, dan kecepatan maksimum 115 mil per jam. Jangkauannya mencapai 2.000 kilometer dengan daya ledak sekitar 50 kilogram. Drone ini terbang rendah untuk menghindari radar, dapat diprogram dengan jalur kompleks, dan di Ukraina dapat dikendalikan jarak jauh untuk mengubah arah di menit terakhir. Shahed pertama kali terlihat pada Juli 2021 dalam serangan terhadap kapal tanker Mercer Street, menandai kemunculan awalnya di panggung konflik internasional.












