Bitcoin (BTC) berbalik melemah pada perdagangan Kamis (5/3/2026) malam setelah sempat menembus level psikologis US$74.000 pada dini hari. Pembalikan arah ini memicu peringatan sejumlah trader mengenai potensi koreksi lanjutan dalam waktu dekat. Data TradingView menunjukkan harga Bitcoin mulai menjauh dari puncak lokal bulanannya, menandakan pasar tengah memasuki fase evaluasi setelah reli singkat yang terjadi sebelumnya.
Pelemahan harga terjadi ketika pelaku pasar menilai apakah Bitcoin mampu mempertahankan level harga jangka panjang sebagai area support baru. Dalam beberapa siklus sebelumnya, kegagalan mempertahankan level penting sering memicu koreksi lebih dalam. Meski demikian, sebagian analis mencatat tekanan jual di pasar spot mulai mereda, yang dapat menjadi sinyal bahwa minat beli masih cukup kuat.
Komentator pasar kripto yang dikenal dengan nama exitpump menilai struktur permintaan di bursa kripto utama masih relatif solid. Ia mengamati bahwa kedalaman order book pada pasar spot Binance menunjukkan dominasi sisi permintaan. “Kedalaman orderbook spot Binance memiliki sisi bid yang cukup kuat. Jadi tetap bullish,” ujarnya, mengindikasikan bahwa sebagian pelaku pasar masih memandang koreksi ini sebagai peluang akumulasi.
Dari sisi likuiditas, data CoinGlass menunjukkan harga Bitcoin sempat menembus area likuiditas penawaran yang berada sedikit di atas level US$71.000. Pergerakan ini biasanya menandakan proses “pembersihan likuiditas”, yaitu ketika pasar menyapu order yang menumpuk di level tertentu sebelum menentukan arah berikutnya. Fenomena ini sering menjadi pemicu volatilitas jangka pendek di pasar kripto.
Trader kripto Jelle menyebut kondisi pasar saat ini sebagai “momen kebenaran”. Menurutnya, pergerakan harga dalam beberapa hari ke depan akan menentukan apakah koreksi yang terjadi hanya penyimpangan sementara sebelum melanjutkan tren naik, atau justru menjadi tanda kegagalan breakout yang lebih besar. Jika level support tidak mampu dipertahankan, tekanan jual berpotensi meningkat.
Beberapa trader juga membandingkan pola pergerakan terbaru dengan fase konsolidasi yang terjadi pada akhir 2025. Pada periode tersebut, pasar sempat bergerak sideways sebelum akhirnya mengalami penurunan signifikan. Kekhawatiran baru muncul setelah munculnya sinyal teknikal yang dikenal sebagai “death cross”, yaitu ketika rata-rata pergerakan jangka pendek turun menembus rata-rata jangka panjang, yang sering dianggap sebagai indikator tren bearish.
Meski demikian, dalam perspektif jangka panjang, Bitcoin tetap menunjukkan pertumbuhan yang signifikan. Data riset CoinShares dan Glassnode pada awal 2026 menunjukkan bahwa adopsi institusional terhadap aset kripto terus meningkat, dengan total aset digital yang dikelola institusi global mencapai lebih dari US$120 miliar. Selain itu, jumlah alamat Bitcoin aktif secara global juga melampaui 50 juta alamat, menandakan ekosistem yang terus berkembang.
Berdasarkan data CoinMarketCap pada Jumat (6/3/2026) pukul 07.45 WIB, Bitcoin diperdagangkan di level sekitar US$70.905 atau turun 2,74 persen dalam 24 jam terakhir. Koreksi juga terjadi pada sejumlah aset kripto utama lainnya, seperti Ethereum yang turun ke US$2.071, BNB ke US$648, XRP ke US$1,40, dan Solana ke US$88,88. Pergerakan selanjutnya diperkirakan akan sangat bergantung pada respons pasar terhadap area support utama serta dinamika likuiditas di bursa kripto global.












