Ketegangan konflik di Timur Tengah yang belum mereda terus menjadi faktor penekan pasar keuangan global, termasuk Indonesia. Konflik antara Amerika Serikat dan Iran memicu ketidakpastian tinggi, tidak hanya dari sisi geopolitik tetapi juga arah ekonomi global. Kondisi ini membuat pelaku pasar lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan investasi.
Analis pasar modal, Reydi Octa menilai bahwa saat ini pasar berada dalam fase sensitif terhadap berbagai sentimen global, mulai dari inflasi hingga arah kebijakan moneter. Ia menekankan bahwa kombinasi suku bunga tinggi dan fluktuasi harga minyak membuat investor cenderung menghindari risiko dan mencari perlindungan di instrumen yang lebih stabil.
Peralihan strategi ini terlihat dari meningkatnya minat pada aset defensif seperti emas dan obligasi. Data terbaru dari World Gold Council menunjukkan permintaan emas global meningkat sekitar 8% sepanjang 2025, didorong oleh ketidakpastian geopolitik dan inflasi yang masih tinggi di berbagai negara.
Reydi memperkirakan tren suku bunga global akan bertahan tinggi lebih lama atau higher for longer, sementara harga minyak akan tetap volatil mengikuti dinamika konflik. Bahkan, menurut laporan International Energy Agency, harga minyak dunia berpotensi berfluktuasi di kisaran US$80–100 per barel pada 2026 jika tensi geopolitik terus berlanjut.
Meski dibayangi ketidakpastian, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat mencatat penguatan pada perdagangan terbaru, seiring rebound teknikal setelah libur panjang serta membaiknya sentimen global. Penguatan ini juga didukung rotasi sektor, khususnya ke saham energi dan barang konsumsi non primer.
Menurut Reydi, investor asing mulai kembali masuk ke pasar saham Indonesia, meski masih dalam skala terbatas. Strategi yang digunakan cenderung akumulatif dan selektif, menunggu kepastian arah global dan stabilitas ekonomi domestik sebelum meningkatkan eksposur secara signifikan.
Sementara itu, ekonom pasar modal Hans Kwee melihat adanya peluang penguatan IHSG dalam jangka pendek. Penundaan rencana serangan oleh Presiden Donald Trump terhadap infrastruktur energi Iran menjadi sentimen positif yang meredakan tekanan pasar, meski hanya sementara.
Hans menyebut, “Pembukaan IHSG dibayangi tekanan jual, tetapi pulihnya pasar pasca penundaan serangan membuka peluang penguatan terbatas dengan support di 7.000–7.100 dan resistance di 7.250–7.349.” Ke depan, arah pasar akan sangat ditentukan oleh perkembangan konflik, di mana eskalasi dapat kembali menekan pasar, sementara de-eskalasi berpotensi membuka ruang rebound yang lebih kuat.












