PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN) mencatatkan kinerja keuangan yang solid sepanjang 2025 dengan laba bersih konsolidasian sebesar US$165 juta atau sekitar Rp2,8 triliun. Capaian ini tumbuh 6,5% dibandingkan tahun sebelumnya sebesar US$155 juta, mencerminkan ketahanan bisnis energi terbarukan di tengah dinamika global.
Pertumbuhan laba bersih yang lebih tinggi dibandingkan kenaikan pendapatan menunjukkan keberhasilan strategi efisiensi perusahaan. Pendapatan BREN tercatat sebesar US$605 juta, naik tipis 1,4% secara tahunan, dengan kontribusi utama berasal dari portofolio panas bumi yang tetap menjadi tulang punggung bisnis.
CEO Hendra Soetjipto Tan menjelaskan bahwa kinerja ini didorong oleh pengelolaan biaya yang disiplin serta optimalisasi struktur utang. “Perseroan berhasil mencatatkan margin yang lebih kuat dan peningkatan profitabilitas melalui penurunan beban bunga,” ujarnya, menegaskan fokus perusahaan pada efisiensi finansial.
Hal ini tercermin dari EBITDA yang mencapai US$518 juta dengan margin tinggi sebesar 85,6%. Selain itu, biaya keuangan turun 11,6% menjadi US$119 juta dari sebelumnya US$134 juta, menjadi faktor utama yang mendorong peningkatan laba bersih secara keseluruhan.
Dari sisi operasional, BREN meningkatkan kapasitas terpasang menjadi 910 MW atau naik 2,7% secara tahunan. Kenaikan ini didorong oleh proyek retrofit Salak serta kontribusi Unit Binary Salak. Perseroan juga memperkuat pipeline pertumbuhan melalui eksplorasi di wilayah Hamiding yang memiliki potensi sumber daya hingga 60 MW.
Ke depan, BREN menargetkan kapasitas panas bumi menembus 1 GW pada 2026, seiring pengembangan proyek Salak Unit 7 dan Wayang Windu Unit 3. Dalam jangka panjang, perusahaan membidik kapasitas hingga 1,9 GW pada 2030–2032, menunjukkan ambisi ekspansi yang agresif di sektor energi bersih.
Secara global, prospek energi terbarukan memang terus menguat. Laporan International Renewable Energy Agency menyebut kapasitas energi terbarukan dunia tumbuh lebih dari 13% pada 2025, dengan panas bumi menjadi salah satu sumber energi yang stabil dan berkelanjutan untuk mendukung transisi energi.
Dari sisi neraca, BREN mencatat total aset sebesar US$3,86 miliar dengan liabilitas yang menurun 2,3% menjadi US$2,98 miliar. Perbaikan ini turut menurunkan rasio utang terhadap ekuitas menjadi 2,36 kali. Untuk mendukung ekspansi, perseroan menyiapkan belanja modal sebesar US$250 juta pada 2026, meningkat signifikan dari tahun sebelumnya, guna mempercepat pengembangan proyek geothermal dan memperkuat posisi sebagai pemain utama energi terbarukan di kawasan.












