Ekonom Center of Reform on Economics (CORE), Yusuf Rendy Manilet mengingatkan pemerintah untuk segera mengantisipasi tantangan ekonomi setelah momentum Ramadan dan Idul Fitri 2026. Menurutnya, dorongan pertumbuhan ekonomi pada kuartal I bersifat sementara karena didukung oleh lonjakan konsumsi musiman.
Selama periode Ramadan dan Lebaran, konsumsi rumah tangga meningkat signifikan dan menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi jangka pendek. Namun, setelah periode tersebut berakhir, aktivitas ekonomi cenderung kembali normal, sehingga laju pertumbuhan berpotensi melambat.
Yusuf menekankan bahwa tantangan ke depan tidak hanya berasal dari efek musiman yang mereda, tetapi juga tekanan eksternal dan domestik yang semakin kompleks. “Kita tidak hanya bicara soal efek musiman, tetapi juga tekanan yang bisa menahan konsumsi ke depan,” ujarnya.
Salah satu risiko utama adalah potensi kenaikan harga energi global yang dapat berdampak langsung pada biaya hidup masyarakat. Ketika harga BBM dan listrik meningkat, daya beli rumah tangga akan tertekan, sekaligus meningkatkan biaya produksi bagi pelaku usaha.
Data World Bank menunjukkan bahwa kenaikan harga energi sebesar 10% dapat mendorong inflasi hingga 0,4–0,6% di negara berkembang, yang pada akhirnya berdampak pada penurunan konsumsi rumah tangga.
Selain energi, risiko lain datang dari potensi gangguan produksi pangan akibat iklim ekstrem. Kondisi ini berpotensi mendorong kenaikan harga bahan pokok, terutama komoditas strategis seperti beras yang memiliki pengaruh besar terhadap inflasi.
Yusuf menilai inflasi pangan menjadi faktor krusial karena dampaknya langsung dirasakan oleh masyarakat, khususnya kelompok menengah ke bawah. Kenaikan harga pangan dapat dengan cepat menggerus daya beli dan memperlambat pemulihan ekonomi domestik.
Dalam kondisi ini, pemerintah perlu mengambil langkah mitigasi yang terukur, mulai dari menjaga stabilitas harga energi dan pangan hingga memperkuat daya beli masyarakat. Pendekatan yang adaptif dinilai penting agar momentum pertumbuhan tidak terhenti setelah efek musiman Lebaran mereda.












