Kegagalan perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran memicu kekhawatiran baru terhadap stabilitas global, termasuk potensi dampaknya bagi Indonesia. Negosiasi yang berlangsung selama 21 jam di Islamabad, Pakistan, berakhir tanpa kesepakatan, memperbesar risiko eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah.
Mantan Wakil Presiden RI ke-13, Ma’ruf Amin, menilai kegagalan tersebut tidak lepas dari adanya kepentingan yang belum sepenuhnya berpihak pada perdamaian. Ia menekankan bahwa konflik yang berlarut dapat membawa konsekuensi luas bagi banyak negara, termasuk Indonesia.
“Kalau tidak ada kepentingan, kepentingannya kebaikan seluruh, pasti tidak akan terjadi kegagalan itu,” ujarnya, menegaskan bahwa kegagalan negosiasi mencerminkan belum adanya kesungguhan untuk mencapai solusi damai.
Menurutnya, jika konflik meningkat menjadi konfrontasi terbuka, dampaknya akan terasa secara global, terutama pada sektor energi dan ekonomi. Indonesia sebagai negara importir energi berpotensi terdampak melalui kenaikan harga minyak dunia dan gangguan rantai pasok.
Data terbaru menunjukkan bahwa sekitar 30% pasokan minyak global melewati jalur strategis Selat Hormuz, kawasan yang sangat sensitif terhadap konflik Iran. Jika terjadi eskalasi, harga minyak dunia berpotensi melonjak di atas US$100 per barel, yang akan berdampak langsung pada inflasi dan subsidi energi di Indonesia.
Dari sisi domestik, tekanan tersebut dapat memperbesar beban fiskal pemerintah, mengingat konsumsi energi nasional terus meningkat. Kebutuhan minyak Indonesia saat ini mencapai lebih dari 1,5 juta barel per hari, sementara produksi domestik masih di bawah 700 ribu barel per hari, sehingga ketergantungan impor tetap tinggi.
Sementara itu, Wakil Presiden AS, JD Vance, menyatakan bahwa kegagalan perundingan justru menjadi kerugian lebih besar bagi Iran. Ia menegaskan bahwa pihak AS telah menyampaikan batas dan syarat yang jelas dalam negosiasi, namun tidak diterima oleh Iran.
Melihat dinamika ini, Indonesia perlu memperkuat strategi mitigasi risiko, mulai dari menjaga stabilitas pasokan energi hingga mengantisipasi tekanan ekonomi global. Kesiapsiagaan menjadi kunci, mengingat konflik geopolitik seperti ini tidak hanya berdampak pada kawasan, tetapi juga pada stabilitas ekonomi dunia secara keseluruhan.












