PGN Gagas Perluas Bisnis CNG di Yogyakarta 20 Pelanggan Terserap 74.000 M³ Gas/Bulan
PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk melalui anak usahanya, PT Gagas Energi Indonesia (PGN Gagas), terus menggenjot ekspansi pemanfaatan gas bumi di Yogyakarta dan Jawa Tengah bagian selatan. Langkah ini diwujudkan melalui pengembangan bisnis Compressed Natural Gas (CNG) model point to point yang dinilai lebih fleksibel menjangkau pelanggan di luar jaringan pipa.
Direktur Utama PGN Gagas, Santiaji Gunawan, menegaskan bahwa pengembangan CNG bukan semata upaya menggantikan satu jenis energi dengan energi lain, melainkan untuk memperluas pilihan masyarakat dan pelaku usaha.
“Kami melihat ini bukan soal menggantikan satu energi dengan energi lain, melainkan memperluas pilihan. Masyarakat maupun pelaku usaha membutuhkan akses terhadap beragam sumber energi yang andal, terjangkau, dan berbasis sumber daya dalam negeri,” ujar Santiaji di Yogyakarta pada hari Rabu (19/8/2026).
Berdasarkan data pengembangan CNG Point to Point Jawa Tengah Bagian Selatan, PGN Gagas saat ini mencatat 20 pelanggan dengan total volume penyaluran sekitar 74.000 meter kubik per bulan. Wilayah layanan mencakup sejumlah lokasi di Sukoharjo, Yogyakarta, dan Magelang.
Yogyakarta menjadi salah satu pasar paling penting dalam pengembangan bisnis CNG Gagas. Dari daftar pelanggan, Bakpia Tugu Jogja tercatat sebagai pelanggan dengan kebutuhan volume terbesar, mencapai sekitar 50.000 m³. Selain itu, Payakumbuh Jogja menyerap sekitar 2.000 m³, dan Platinum Hotel sekitar 1.500 m³.
Di Sukoharjo, pelanggan yang tercatat antara lain Bening Big Tree dengan kebutuhan sekitar 3.000 m³, 12 titik Stasiun Pengisian dan Pemindahan Gas (SPPG) dengan total kebutuhan sekitar 12.000 m³, serta Aston Hotel Solo sekitar 1.500 m³. Sementara di Magelang, layanan CNG digunakan oleh dua titik SPPG dengan volume sekitar 2.000 m³ dan PGN Balkondes sekitar 2.000 m³.
Pertumbuhan bisnis CNG di Yogyakarta dinilai memiliki prospek menarik seiring berkembangnya sektor pariwisata, perhotelan, kuliner, UMKM, dan jasa. Karakteristik bisnis tersebut membutuhkan energi secara rutin untuk berbagai kegiatan operasional, mulai dari dapur, pemanas, produksi makanan, hingga laundry.
Model CNG point to point memberikan alternatif bagi pelanggan yang belum terhubung dengan jaringan pipa gas bumi. Gas diangkut menggunakan Gas Transportation Module (GTM) dari sumber pasokan menuju lokasi pelanggan. Dengan demikian, PGN Gagas dapat memperluas pasar gas bumi tanpa harus menunggu pembangunan jaringan pipa hingga ke setiap lokasi pelanggan.
Jargas Sleman Tambah Basis Pasar
Selain model CNG point to point, PGN juga mengembangkan jaringan gas bumi di Kabupaten Sleman. Berdasarkan data klasterisasi CNG Jargas Sleman, infrastruktur yang tersedia terdiri dari 1 unit Pressure Regulating Station (PRS), pipa DTM sepanjang 15,9 kilometer, 5 unit Regulating Station (RS), serta pipa DTR sepanjang 125,5 kilometer. Total panjang jaringan tercatat sekitar 141,4 kilometer.
Dari sisi pelanggan, jaringan tersebut telah melayani 4.545 pelanggan rumah tangga, 6 pelanggan kecil, dan 4 pelanggan komersial atau industri, atau total sekitar 4.555 pelanggan. Jumlah pelanggan rumah tangga yang besar memberikan fondasi pasar kuat. Namun, pelanggan komersial dan industri yang masih terbatas menunjukkan peluang ekspansi besar. Sektor hotel, rumah sakit, restoran, laundry, industri makanan, UMKM, dan berbagai fasilitas komersial di sekitar jaringan dapat menjadi sasaran pengembangan berikutnya.
Bisnis CNG Tak Hanya Mengejar Jumlah Pelanggan
Dari perspektif komersial, pertumbuhan bisnis CNG tidak semata-mata diukur dari jumlah pelanggan, tetapi juga dari volume pemakaian gas dan utilisasi infrastruktur. Data 20 pelanggan dengan volume sekitar 74.000 m³ per bulan menunjukkan bahwa pelanggan komersial dengan kebutuhan energi besar dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap volume penyaluran. Karena itu, strategi pengembangan pasar di Yogyakarta berpotensi diarahkan pada kombinasi antara perluasan basis pelanggan dan peningkatan konsumsi pelanggan produktif.
Santiaji menambahkan, pengembangan CNG tetap mempertimbangkan sejumlah aspek, antara lain keandalan, keterjangkauan, sumber daya domestik, kebijakan pemerintah, keekonomian, kesiapan infrastruktur, dan kebutuhan pasar. Bagi PGN Gagas, pendekatan tersebut memungkinkan gas bumi menjangkau pelanggan di luar kawasan yang telah memiliki jaringan pipa.
Peluang Bisnis ke Depan
Dengan adanya dua model pengembangan—Jargas berbasis klaster CNG di Sleman dan CNG point to point di Jawa Tengah bagian selatan—PGN Gagas memiliki ruang untuk memperluas pasar gas bumi di Yogyakarta. Kawasan ini memiliki karakteristik pasar menarik karena ditopang oleh sektor pariwisata, perhotelan, kuliner, pendidikan, kesehatan, dan UMKM.
Tantangannya adalah memastikan harga gas tetap kompetitif dibandingkan sumber energi alternatif, sekaligus menjaga keandalan pasokan dan efisiensi distribusi. Di sisi lain, meningkatnya kebutuhan energi sektor komersial memberikan peluang bagi Gagas untuk meningkatkan volume penjualan tanpa harus semata-mata mengandalkan pertumbuhan pelanggan rumah tangga.
Data 74.000 m³ per bulan dari 20 pelanggan menjadi salah satu indikator bahwa pasar CNG komersial di kawasan Jawa Tengah bagian selatan memiliki ruang pertumbuhan menarik. Ke depan, keberhasilan ekspansi PGN Gagas di Yogyakarta akan sangat ditentukan oleh kemampuan perusahaan mengubah potensi pasar menjadi pelanggan baru, meningkatkan volume konsumsi, serta mengoptimalkan infrastruktur yang sudah tersedia. Dengan jaringan Jargas Sleman sekitar 141,4 kilometer dan bisnis CNG point to point yang telah mencapai 20 pelanggan dengan volume 74.000 m³ per bulan, Yogyakarta berpotensi menjadi salah satu kawasan penting dalam strategi ekspansi bisnis gas bumi PGN Gagas di wilayah Jawa Tengah bagian selatan.












