Sebaran berita bohong atau hoaks yang paling banyak seperti laporan Katadata terjadi di WhatsApp. WhatsApp menjadi ladang berita hoaks terbesar di Indonesia kemudian disusul Facebook, Instagram YouTube dan Twitter. Terakhir Twitter karena penggunanya di Indonesia lebih sedikit jumlahnya dibandingkan dengan aplikasi lain.
Jika beberapa tahun lalu Facebook menempati posisi puncak, namun seiring dengan pengguna WhatsApp jauh lebih banyak sehingga kini persebaran hoaks pun semakin banyak di sana. Muhammad Ayip Faturohman, relawan TIK Kota Cirebon menilai kebiasaan masyarakat Indonesia dalam mengkonsumsi berita dari media sosial juga menjadi penyebab yang akhirnya produsen hoaks menyusuri dan juga menyebarkan hoaks melalui media sosial.
“Sudah cari berita di media sosial, ditambah orang Indonesia malas membaca jadi tidak heran hoaks berkembang luas dan banyak yang terpapar hoaks,” ujarnya di webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 di wilayah Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, Selasa (14/9/2021).
Faktor lain membuat hoaks dipercaya karena filter bubble, seseorang yang selalu mencari informasi yang sama membuat media sosial akan selalu menyajikan informasi yang seusai dengan yang dicari. Memang menyenangkan, kita hanya melihat minat kita namun untuk isu-isu sensitif itu akan membuat cara pandang seseorang.
Sementara itu, menurut Ayip terkadang orang yang menyebarkan hoaks karena mereka tidak tahu apa yang disebarkan bohong atau benar. Sebab, seringkali menyebarkan berita untuk pertama kali dianggap sebuah kebanggan.
“Entah mengapa ada anggapan seperti itu, tidak masalah kalau informasi tersebut valid namun jangan sampai itu hoaks,” tuturnya.
Maka, perlu untuk mencari tahu kebenaran informasi pada website misalkan website resmi dari lembaga yang bersangkutan atau dari pemerintah. Membandingkan informasi dari berbagai sumber sehingga bukan hanya dari media. Kalau perlu periksa identitas penyampai informasi dan yang terakhir adalah paham menentukan penting tidaknya sebuah berita tersebut untuk dibagikan ulang atau tidak.
Webinar juga menghadirkan pembicara Virginia Aurelia (founder divetolive.id), Ronal Tuhatu (psikolog), Kis Urel (development couch), dan Rio Silaen sebagai Key Opinion Leader.












