Budaya merupakan suatu cara hidup berkembang dan dimiliki bersama oleh sekelompok orang, serta diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya memiliki beberapa fungsi.
Pertama, sebagai penentu batas-batas. Kedua, sebagai identitas kepada anggota kelompok tersebut. Ketiga, budaya memfasilitasi lahirnya komitmen. Keempat, budaya meningkatkan stabilitas kemantapan sistem sosial. Kelima, budaya bertindak sebagai mekanisme pembuat makna serta kendali yang menuntut dan membentuk sikap serta perilaku individu.
“Keberagaman budaya Indonesia disatukan dalam satu ikatan Bhinneka Tunggal Ika karena dengan banyaknya budaya yang ada membutuhkan pemersatu,” tutur Dewi Tresnawati anggota RTIK Indonesia, dalam webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 di wilayah Kabupaten Garut, Jawa Barat, Rabu (22/9/2021).
Ketika kita bangga dengan keberagaman budaya yang dimiliki, sudah sepatutnya kita mempromosikan budaya tersebut. Akan tetapi, yang terjadi justru masuknya budaya luar ke Indonesia. Hal ini membuat banyak perubahan di masyarakat dan berdampak pada kebiasaan yang dapat menggerus budaya bangsa.
“Kita harus dapat bertahan dan mempertahankan budaya kita agar tidak tergerus. Jangan sampai budaya kita diklaiim lagi negara lain karena kita tidak memeliharanya,” ungkapnya.
Agar budaya tetap kuat, kita butuh menjaga dan melestarikannya. Caranya, melakukan pada diri sendiri dan kelompok sekitar. Misalnya, menggunakan batik di kehidupan sehari-hari, menerapkan tutur kata yang sopan dan santu, dan sebagainya. Selain itu, mempromosikan budaya melalui media digital dengan cara mengenalkan budaya tersebut. Misalnya, menceritakan filosfi budaya atau tempat wisata melalui foto.
Di era digital, kita bisa memanfaatkan media YouTube dan media digital lainnya untuk mengenalkan budaya Indonesia, seperti memposting video tarian, make up dengan unsur budaya Indonesia, dan lainnya.
Webinar juga menghadirkan pembicara Gabriella Jacqueline (Brand Activation Lead), Arya Shami Padhama (CEO & Founder Tekape Workspace), Chiara Ciasman Co-Founder Forest Sangjit), dan Ibrahim Hanif.












