Di dunia nyata, masyarakat Indonesia dikenal ramah, baik, dan sopan. Hal ini menjadikan orang Indonesia disebut negara paling ramah ke-8 dari total 64 negara menurut survei Expat Insider 2019. Namun yang terjadi di dunia maya justru sebaliknya, masyarakat Indonesia menjadi masyarakat paling tidak sopan menurut survei Microsoft.
“Ini membuktikan ada hal yang berbeda di mana orang-orang Indonesia ketika berinteraski dan berkomunikasi di dunia nyata kelihatan ramah, tetapi di dunia maya justru menjadi sebaliknya. Seolah-olah orang Indonesia terlihat garang,” tutur Dede Muhammad Multazam seorang Program Director dalam webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 di Kabupaten Subang, Jawa Barat, Jumat (24/9/2021).
Beberapa hal yang sering terjadi di dunia maya sebagai hal berbahaya, yaitu hoaks, diskriminasi, trolling, radikalisme, hate speech, cyberbullying, pornografi, terorisme, doxing, dan penipuan. Kita harus menggunakan etika sebagai suatu pedoman saat berinteraksi dan berkolaborasi di ruang digital.
Etika menurut Ki Hajar Dewantara merupakan ilmu yang mempelajari soal kebaikan dan keburukan dalam kehidupan manusia, terutama yang berkaitan dengan gerak gerik pikiran dan rasa yang pertimbangan dan perubahan sehingga dapat mencapai tujuannya dalam bentuk perbuatan.
“Manusia dapat berbuat, akan tetapi perbuatannya bisa berjalan ke jalan yang baik ataupun tidak baik. Dengan adanya etika, setiap perbutaan ataupun perkataan yang dilakukan harus berdasarkan kebaikan-kebaikan yang timbul dari diri,” paparnya.
Ia menjelaskan, dalam berinteraksi di ruang digital kita harus mengetahui dan memenuhi beberapa unsur, seperti pesan yang ingin disampaikan, cara mengirim dan menyampaikan pesan, pemilihan sarana dan media, penerima pesan, dan respon efek, atau pengaruh dari pesan tersebut. Ketika berinteraksi dengan baik, kita perlu bertanggung jawab, menghargai orang lain, menghindari plagiasi, menjaga privasi diri dan orang lain, serta mengedepankan pemikiran kritis.
Etika menjadi dasar pondasi dalam berkomunikasi di ruang digital. Karena etika mengedepankan dan memberikan landasan moral terhadap setiap sikap dan perilaku seseorang saat berkomunikasi di ruang digital. Ia mengatakan, tanpa etika komunikasi yang dilakukan menjadi tidak etis.
Webinar juga menghadirkan pembicara Putu Yani Pratiwi (Lecturer & Owner Askara Villa Bali), Katherine (Praktisi Kesehatan), Muhammad Miftahun Nadzir (Dosen Entrepreneurship – Universitas Muhammadiyah Yogyakarta), dan Winda Ribka sebagai Key Opinion Leader.












