Etika digital merupakan perilaku memanfaatkan jaringan internet dengan menjunjung tinggi nilai-nilai kebenaran dan kebaikan. Menurut Siberkreasi etika digital adalah kemampuan orang menyadari, mencontohkan, menyesuaikan diri, merasionalkan, mempertimbangkan dan mengembangkan tata kelola etika digital dalam keseharian.
Jadi etiket di internet, tata cara atau adab sopan santun yang bersifat praksis atau perbuatan dalam menggunakan internet.
Penulis dan penggiat literasi Mi’raj Dodi Kurniawan mengatakan, nilai-nilai etika itu sebenarnya sudah lama dan sampai sekarang masih ada. Jadi bukan sesuatu hal yang baru dan ini akan menjadi sebuah nilai-nilai yang abadi apapun zamannya.
Yang berbeda hanya pelaksanaannya aktualisasinya dalam berbagai hal. Misalnya dalam tata kelola dalam berinteraksi, berpartisipasi berkolaborasi dan dalam bertransaksi elektronik. Tata kelola ini bagaimana seseorang dapat mampu mengelola data diri mereka, dan apapun yang penting tidak diumbar di ruang publik.
“Berinteraksi ketika di ruang publik Bagaimana seharusnya beretika seperti berkata sopan kepada pengguna internet lainnya. Dalam berinteraksi, kita juga harus tahu dengan siapa kita berkomunikasi saat berada di media sosialnya interaktif ataupun yang sifatnya personal,” jelasnya dalam webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 di kabupaten Cianjur, Jawa Barat, Selasa (28/9/2021).
Saat melakukan interaksi di media sosial yang lebih terbuka sebaiknya mengeluarkan pernyataan yang mengundang sensasi ataupun emosi dari orang lain. Etika dalam berinteraksi ini yang paling harus dilakukan untuk menghindari dampak negatif yang terjadi.
Berpartisipasi maksudnya adalah ikut serta dalam menjaga keamanan dan kenyamanan di ruang digital. Misalnya kita berpartisipasi dalam gerakan nasional literasi digital atau bisa ikut serta dalam kegiatan yang bisa memberikan manfaat bagi orang banyak. Berkolaborasi maksudnya bekerjasama dengan sesama pengguna internet dalam membuat karya atau konten.
“Banyak yang mengatakan jika kini bukan hanya untuk berkompetisi tapi era berkolaborasi. Bagaimana kini banyak bisnis yang saling bersatu untuk berkolaborasi menghasilkan sebuah produk yang disukai masyarakat. Kolaborasi ini juga biasanya ditunjukkan oleh sebuah brand kepada seseorang atau influencer untuk lebih meningkatkan penjualannya melalui influencer tersebut,” jelasnya.
Terakhir, dalam bertransaksi elektronik, etika di sini bisa dilihat dari sisi pandang penjual maupun pembeli. Bagaimana seorang penjual harus beretika dengan baik dengan memberikan informasi selengkap-lengkapnya mengenai produk yang dijual. Dan juga harus memiliki etika untuk jujur dalam setiap kondisi yang terjadi pada produk atau dari segi pengemasan. Dari sisi si pembeli etika yang harus diterapkan adalah bagaimana pembeli dapat memberikan ulasan yang jujur.
Webinar juga menghadirkan pembicara Rabindra Soewardana (Direktur Radio Oz Bali), Diana Nafiah (COO Halo Bayi), Ricco Antonius (Founder Patris Official), dan Sari Hutagalung sebagai Key Opinion Leader.












