Dalam berbudaya dan beretika di ruang digital masyarakat Indonesia memiliki pedoman hidup yang biasa dijalani di kehidupan nyata yakni Pancasila. Para pendiri bangsa sudah menyusun Pancasila yang hingga kini masih sangat relevan mengatur tata cara bermasyarakat di negara yang beragam ini. Sekalipun pada zaman yang serba canggih yang tidak perlu bertatap muka untuk hidup berdampingan.
Menurut Catur Nugroho dosen Universitas Telkom, bagaimana nilai religius dalam sila pertama itu hingga kini tetap menjadikan agama menjadi sebuah kepercayaan dasar hidup manusia di Indonesia. Ajaran agama juga yang mengatur segala aspek kehidupan.
Di Indonesia, meskipun berbeda agama tetap harus bisa menghargai satu sama lain. Menjalankan ibadah, perayaan dan semua aktivitas keagamaan lainnya dengan tenang, aman di negara ini. Begitu juga di ruang digital semua orang berhak untuk mem-posting apapun mengenai agama mereka tanpa ada yang melarang.
Sila kedua mengenai toleransi, Catur menyatakan, Indonesia mungkin satu-satunya bangsa yang paling toleran di seluruh dunia dengan 700 lebih suku bangsa dengan bahasa yang berbeda-beda, kebiasaan dan lain-lain.
“Tapi kita bisa dalam suatu negara dengan perbedaan yang ada. Berbeda dengan bangsa lain bahkan dalam satu negaranya di Eropa itu misalnya. Mereka satu suku bangsa tapi berbeda-beda negara, itulah salah satu kelebihan kita,” jelasnya di webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 di wilayah Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Kamis (30/9/2021).
Bagaimana di Indonesia menghargai pendirian, pendapat, pandangan kepercayaan, kebiasaan kelakuan yang berbeda agama ideologi atau budaya suku bangsa namun masih menjadi satu di negara ini dan harus saling menghormati.
Kemudian tentang harmoni dan empati, dalam konteks etika kita harus mampu memahami perasaan dan pikiran orang lain kemudian menempatkan diri kita pada orang lain sehingga tidak terjadi permasalahan baik dalam kehidupan maupun dalam kehidupan digital dunia nyata.
“Nilai kekeluargaan yang mungkin sekarang sudah mulai tergerus seiring terjadinya globalisasi juga arus teknologi informasi yang tidak ada sekat dan batas waktu maupun jarak. Akhirnya menggerus sifat-sifat bahasa Indonesia yang seharusnya kekeluargaan dan gotong royong. Banyak sekali kita temukan konflik terutama perbedaan pendapat,” jelasnya.
Jika sudah mengarah pada konflik itu yang sudah mengkhawatirkan. Semua itu berawal dari pelanggaran etika, Padahal sesuai dengan sila ke-4 mengenai kekeluargaan lebih mengedepankan dialog musyawarah mufakat dan persahabatan dalam berpendapat dan berekspresi.
Gotong royong, bekerja sama saling membantu kolaborasi seperti yang ada di sila kelima. Gotong-royong sebenarnya seperti menjadi ciri khas dari bangsa Indonesia. Gotong royong ini juga nyatanya mampu dilakukan para pengguna internet untuk tujuan mulia. Seperti melakukan penggalangan dana untuk donasi.
Webinar juga menghadirkan pembicara, Febryanto Kristiani (owner @vitaminmonster), Dian Nurwaliah Sonjaya (Owner Maleeha Skincare), Acep Syaripudin (Koordinator Literasi Digital ICT Watch), dan Yumna Aisyah sebagai Key Opinion Leader.












