Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung artinya di manapun kita berada kita tetap harus menghormati aturan yang berlaku. Pepatah itu sudah kita pahami hingga sekarang. Tentunya ini menjadi pegangan agar kita tidak salah langkah dalam menjaga sikap dan perilaku di dalam masyarakat. Tidak terkecuali ketika berinteraksi di dalam ruang digital bersama masyarakat digital lainnya.
Rizal Tanzil Rakhman, Sekretaris Eksekutif Asosiasi Pertekstilan Indonesia mengatakan, budaya di dunia offline itu sama saat kita berada di dunia online. Kita sama-sama menghadapi manusia bukan robot artinya sesama manusia itu perlu etika, budaya sopan santun.
Bukan karena lawan bicara tidak terlihat wajahnya atau tidak bertatapan langsung, lantas kita bisa seenaknya berbicara sembarangan. Maka, ada istilah netiket atau etika berinternet yang sebaiknya dipahami para warganet. Netiket ini ada yang memang untuk diri kita sendiri, mengatur apa saja yang sebaiknya dilakukan dan tidak tentu juga hal-hal yang harus dilakukan untuk orang lain.
Jadi yang harus dilakukan dalam berinteraksi di dunia maya ini adalah mengingat keberadaan orang lain, ada manusia di balik akun media sosial, ada kreator konten yang juga manusia yang berada di balik sebuah karya sehingga tidak pantas kita mencela karya orang lain.
“Meskipun tidak bertatap muka tetapi ada orang lain yang sedang kita ajak berbicara atau statusnya kita komentari mereka sama seperti kita. Maka ketika berkomentar, tentunya kita harus berpikir terlebih dahulu, apakah ini sesuatu yang bisa menyakiti hati dia atau bahkan bisa memancing perdebatan bagi siapapun yang melihat komentar kita,” ungkapnya saat menjadi pembicara dalam webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 di wilayah Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Rabu (15/9/2021).
Layaknya berbicara dengan orang lain di kehidupan nyata kita harus menggunakan bahasa baik dan berperilaku sopan santun. Sedekat apapun hubungan kita dengan orang yang kita berikan komentar selama di media sosial yang terbuka untuk umum. Sehingga jika terlihat orang lain akan menimbulkan persepsi. Tetap menggunakan bahasa yang sopan untuk dilihat karena menyangkut jejak digital.
Buatlah konten positif, seperti membagikan ilmu dan mempromosikan budaya Indonesia, membuat tutoria membuat sesuatu, mengulai produk atau film. Daripada kita mem-posting gosip atau menyindir seseorang. Dalam berinteraksi di dunia maya juga kita harus memikirkan orang lain, menghormati waktu dan bandwidth orang lain.
“Kita harus mengetahui waktu mungkin saja orang sedang istirahat, sedang beribadah jadi saat ingin mengirim pesan kepada orang tua untuk daftar. Mengenai bandwidth tentu tidak setiap orang menggunakan Wi-Fi atau memiliki kuota banyak sehingga alangkah lebih baiknya kita tidak perlu mengirimkan file yang bandwidth besar yang memakan kuota yang banyak,” jelasnya.
Lalu kita juga harus menghormati privasi orang lain jangan pernah membagikan data diri juga nomor HP dan semuanya milik orang lain tanpa izin. Privasi orang lain juga misalnya saat kita mem-posting foto anak kita bersama teman-temannya kalau perlu kita harus meminta izin kepada orang tua dari teman-teman anak kita sebelum kita posting.
Jangan menyalahgunakan kekuasaan misalnya kita menjadi admin grup kita langsung mengeluarkan seseorang dari grup. Jadilah pembawa kedamaian dalam diskusi yang sehat, jika sudah ada perdebatan kita dapat membawa arahan obrolan lebih santai. Perdebatan tidak terus terjadi dan yang terakhir adalah memaafkan jika orang lain membuat kesalahan. Memaafkan mereka yang sudah menyakiti perasaan agar permasalahan itu tidak semakin panjang.
Webinar juga menghadirkan pembicara Febriyanti Kristiani (founder @vitaminmonster), Bambang Iman Santoso (Neuronesia Learning Center), Andi Astrid Kaulika (PT. Artha telekomindo), dan Inayah Chairunissa sebagai Key Opinion Leader.












