PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) berencana melakukan pembelian kembali (buyback) saham sebagai langkah menjaga stabilitas harga dan likuiditas di pasar. Rencana ini akan dimintakan persetujuan dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) yang dijadwalkan pada April 2026.
Perseroan telah menyiapkan dana sebesar Rp1,17 triliun yang seluruhnya berasal dari kas internal. Langkah ini mencerminkan posisi likuiditas yang kuat sekaligus keyakinan manajemen terhadap prospek jangka panjang perusahaan.
Corporate Secretary BMRI, Adhika Vista menjelaskan bahwa buyback bertujuan menjaga keseimbangan antara kondisi pasar dan fundamental perusahaan. “Langkah ini diambil untuk menjaga kepercayaan pemangku kepentingan dan mendukung pertumbuhan berkelanjutan,” ujarnya.
Selain menjaga stabilitas harga saham, buyback juga akan digunakan untuk program kepemilikan saham bagi karyawan serta manajemen. Skema ini diharapkan dapat meningkatkan keterlibatan (engagement) dan kinerja jangka panjang, sekaligus menjadi bagian dari sistem remunerasi berbasis kinerja.
Pelaksanaan buyback akan dilakukan secara fleksibel, baik bertahap maupun sekaligus, dalam periode hingga 12 bulan setelah persetujuan RUPS. Namun, perseroan menegaskan bahwa aksi ini tetap memperhatikan kondisi likuiditas pasar dan tidak akan mengganggu jumlah saham beredar secara signifikan.
Kebijakan buyback ini didukung oleh kinerja fundamental yang kuat sepanjang 2025. Bank Mandiri mencatat laba bersih konsolidasi sebesar Rp56,3 triliun, dengan pertumbuhan kredit mencapai Rp1.895 triliun atau naik 13,4% secara tahunan, melampaui rata-rata industri perbankan.
Dari sisi pendanaan, Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 23,9% menjadi Rp2.105,8 triliun, dengan komposisi dana murah (CASA) meningkat 12,6% menjadi Rp1.431,4 triliun. Kualitas aset juga tetap terjaga dengan rasio kredit bermasalah (NPL) gross di level 0,96%, mencerminkan manajemen risiko yang solid.












