PT ABM Investama Tbk. (ABMM) mencatatkan penurunan kinerja keuangan yang cukup dalam sepanjang 2025, dengan laba bersih sebesar US$70,61 juta atau sekitar Rp1,19 triliun. Angka ini turun signifikan 49,33% dibandingkan capaian tahun sebelumnya sebesar US$139,36 juta, mencerminkan tekanan pada sektor pertambangan, khususnya batu bara.
Penurunan laba ini sejalan dengan kontraksi pendapatan yang tercatat sebesar US$1,03 miliar, atau turun 13,50% secara tahunan. Mayoritas kontribusi pendapatan masih berasal dari segmen kontraktor tambang dan tambang batu bara sebesar US$755,01 juta, diikuti segmen jasa sebesar US$185,22 juta.
Koreksi kinerja ini tidak terlepas dari melemahnya harga batu bara global. Data World Bank menunjukkan harga batu bara acuan global turun sekitar 20–30% sepanjang 2025 dibandingkan tahun sebelumnya, seiring normalisasi permintaan energi dan peningkatan pasokan global.
Seiring turunnya pendapatan, beban pokok perusahaan juga ikut menurun 12,58% menjadi US$934,49 juta. Namun, efisiensi tersebut belum mampu menahan penurunan laba kotor yang terkoreksi 20,97% menjadi US$103,67 juta, menunjukkan tekanan margin yang masih cukup besar.
Dari sisi neraca, total aset ABMM tercatat sebesar US$2,05 miliar atau turun tipis 1,92%. Meski demikian, struktur keuangan menunjukkan perbaikan dengan ekuitas yang tumbuh 3,91% menjadi US$880,42 juta, serta liabilitas yang menurun 5,88% menjadi US$1,17 miliar.
Salah satu indikator positif adalah peningkatan kas dan setara kas sebesar 17,15% menjadi US$199,52 juta. Kenaikan ini mencerminkan upaya perusahaan dalam menjaga likuiditas di tengah volatilitas industri pertambangan.












