PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau Bank Rakyat Indonesia (BRI) mencatat realisasi penyaluran Kredit Pemilikan Rumah Subsidi (KPRS) sebesar Rp16,79 triliun hingga Februari 2026. Pembiayaan tersebut telah menjangkau 122.838 debitur, mencerminkan komitmen perseroan dalam memperluas akses kepemilikan hunian bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).
Penyaluran KPR subsidi ini menjadi bagian penting dari peran BRI dalam mendukung pemerataan pembangunan nasional. Dengan fokus pada segmen MBR, BRI berupaya menghadirkan solusi pembiayaan yang terjangkau sekaligus meningkatkan kualitas hidup masyarakat melalui kepemilikan rumah yang layak.
Direktur Utama BRI, Hery Gunardi, menegaskan bahwa program ini merupakan bentuk nyata dukungan perseroan terhadap kesejahteraan masyarakat. “BRI berkomitmen menghadirkan akses hunian yang layak, terjangkau, dan berkualitas bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Penyaluran KPR subsidi ini merupakan bagian dari peran BRI dalam mendukung pemerataan pembangunan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.
Dari total penyaluran tersebut, KPR Sejahtera Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) menjadi kontributor terbesar dengan nilai Rp16,38 triliun. Sementara itu, KPR Tapera mencapai Rp316,93 miliar, KPR Subsidi Selisih Bunga (SSB) sebesar Rp91,65 miliar, dan Program Bantuan Pembiayaan Perumahan Berbasis Tabungan (BP2BT) sebesar Rp8,89 miliar.
Capaian ini mencerminkan konsistensi BRI dalam mendukung berbagai kebijakan pemerintah di sektor perumahan. Penyaluran pembiayaan tidak hanya membuka akses kepemilikan rumah, tetapi juga menjadi penggerak aktivitas ekonomi yang lebih luas melalui pembangunan kawasan hunian.
Dampak ekonomi dari sektor perumahan dinilai sangat signifikan karena memiliki efek berganda terhadap berbagai industri. Aktivitas pembangunan perumahan mendorong pertumbuhan sektor konstruksi, industri bahan bangunan, jasa tenaga kerja, logistik, hingga menciptakan peluang usaha bagi pelaku UMKM di sekitar kawasan hunian.
Secara industri, kebutuhan hunian di Indonesia masih sangat besar dengan backlog perumahan diperkirakan mencapai lebih dari 12 juta unit. Permintaan rumah diproyeksikan tumbuh sekitar 8–10% per tahun, didorong oleh pertumbuhan populasi dan urbanisasi, sehingga membuka ruang ekspansi yang luas bagi sektor pembiayaan perumahan.
Ke depan, BRI optimistis dapat terus memperluas jangkauan pembiayaan melalui dukungan jaringan lebih dari 7.000 unit kerja di seluruh Indonesia. Dengan infrastruktur layanan yang luas dan strategi yang terarah, perseroan menargetkan semakin banyak keluarga Indonesia dapat memiliki hunian yang layak dan terjangkau, sekaligus memperkuat kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.












