PT PAM Mineral Tbk (NICL) mencatatkan kinerja keuangan yang tetap solid sepanjang tahun buku 2025, ditopang oleh strategi efisiensi operasional dan pengendalian biaya yang efektif. Perseroan membukukan penjualan bersih sebesar Rp1,47 triliun, meningkat tipis 2,08% dibandingkan Rp1,44 triliun pada tahun sebelumnya, mencerminkan stabilitas permintaan di sektor pertambangan.
Peningkatan kinerja tersebut semakin diperkuat oleh penurunan beban pokok penjualan sebesar 5,86% menjadi Rp871,00 miliar dari sebelumnya Rp925,22 miliar. Efisiensi ini mendorong laba bruto tumbuh signifikan sekitar 16,4% menjadi Rp602,08 miliar, menunjukkan keberhasilan perusahaan dalam menjaga margin di tengah fluktuasi harga komoditas.
Di sisi lain, beban umum dan administrasi mengalami kenaikan sebesar 39% menjadi Rp143,43 miliar. Namun, peningkatan biaya ini tidak menggerus kinerja operasional secara keseluruhan, karena laba usaha tetap mencatatkan pertumbuhan 10,75% menjadi Rp458,64 miliar dibandingkan Rp414,10 miliar pada 2024.
Perseroan juga mencatatkan laba tahun berjalan sebesar Rp345,14 miliar pada 2025, meningkat 8,3% dibandingkan tahun sebelumnya. Laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai Rp344,45 miliar atau Rp32,39 per saham, naik dari Rp318,04 miliar atau Rp29,90 per saham pada 2024, mencerminkan kinerja profitabilitas yang tetap terjaga.
Dari sisi neraca, total aset perseroan tercatat sebesar Rp873,05 miliar per akhir 2025, turun 16,86% dibandingkan tahun sebelumnya. Penurunan ini sejalan dengan strategi konsolidasi aset dan optimalisasi struktur keuangan. Sementara itu, total liabilitas berhasil ditekan signifikan sebesar 43,80% menjadi Rp96,62 miliar, memperkuat posisi keuangan perusahaan.
Total ekuitas NICL tercatat sebesar Rp776,42 miliar, mengalami penurunan 11,59% dibandingkan tahun sebelumnya. Meski demikian, struktur permodalan yang lebih sehat dengan beban liabilitas yang lebih rendah memberikan ruang bagi perseroan untuk menjaga fleksibilitas keuangan dalam ekspansi ke depan.
Untuk tahun 2026, PAM Mineral menargetkan peningkatan produksi melalui pengajuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) dengan total potensi mencapai 5,3 juta ton. Rinciannya meliputi kontribusi dari PT IBM sebesar 2,5 juta ton, PAM Mineral sebesar 800 ribu ton, dan PT SMA sebesar 2,3 juta ton, yang diharapkan menjadi pendorong pertumbuhan kinerja di masa mendatang.
Direktur Utama PAM Mineral, Ruddy Tjanaka, menegaskan bahwa perusahaan telah menyiapkan perencanaan tambang jangka menengah untuk memastikan kesinambungan operasional. “Kalau dari kami sebenarnya persiapan itu untuk tiga tahun, jadi memang lebih ideal RKAB tiga tahunan. Tapi, karena aturan pemerintah seperti itu, ya tetap kita ajukan per tahun,” ujarnya. Secara industri, prospek komoditas nikel global juga masih positif, dengan proyeksi permintaan tumbuh sekitar 6–8% per tahun hingga 2030, didorong oleh kebutuhan baterai kendaraan listrik yang diperkirakan meningkat lebih dari 20% per tahun, sehingga membuka peluang pertumbuhan berkelanjutan bagi NICL.












