PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk atau Bank Syariah Indonesia (BSI) mencatatkan pertumbuhan laba bersih (unaudited) sebesar 17% secara tahunan (yoy) menjadi Rp1,36 triliun. Capaian ini melanjutkan tren pertumbuhan berkelanjutan perseroan yang didukung oleh strategi ekspansi bisnis dan penguatan layanan berbasis digital.
Direktur Utama BSI, Anggoro Eko Cahyo, menyampaikan bahwa kinerja tersebut mencerminkan kondisi perusahaan yang tetap solid di awal tahun. “Kinerja ini menunjukkan fundamental BSI yang kuat, didukung oleh akselerasi digital, penguatan bisnis emas, serta fokus pada segmen konsumer dan UMKM,” ujarnya.
Pertumbuhan kinerja BSI ditopang oleh peningkatan pendapatan berbasis komisi (fee based income/FBI) yang tumbuh 30% menjadi Rp1,47 triliun. Kontributor utama berasal dari layanan bank emas yang mencatat lonjakan signifikan sebesar 136,55% menjadi Rp463 miliar, menegaskan posisi bisnis emas sebagai salah satu keunggulan kompetitif perseroan.
Selain bisnis emas, pertumbuhan FBI juga didukung oleh layanan treasury dan kanal digital. Hingga Februari 2026, pengguna superapps BYOND by BSI telah mencapai 6,3 juta dengan total transaksi menembus 125,4 juta, mencerminkan akselerasi transformasi digital yang semakin kuat di kalangan nasabah.
Dari sisi intermediasi, pembiayaan BSI tumbuh 14,32% (yoy) menjadi Rp323 triliun, dengan kontribusi terbesar berasal dari segmen konsumer, khususnya bisnis berbasis emas. Sementara itu, pembiayaan ritel termasuk UMKM mencapai Rp52,43 triliun atau tumbuh 6,10%, menunjukkan komitmen perseroan dalam mendorong pengembangan sektor usaha kecil dan menengah.
Strategi diferensiasi melalui bisnis bullion bank juga menjadi pendorong penting kinerja BSI. Sejak memperoleh izin sebagai bank emas, perseroan mencatat pertumbuhan signifikan dengan total kelolaan emas mencapai sekitar 22,5 ton serta basis nasabah yang meningkat hingga 23 juta dalam empat tahun terakhir.
Dari sisi pendanaan, dana pihak ketiga (DPK) tumbuh 14,76% menjadi Rp366 triliun, didorong oleh peningkatan tabungan sebesar 16,06% menjadi Rp154 triliun. Likuiditas tetap terjaga dengan financing to deposit ratio (FDR) di level 88,20%, sementara kontribusi fee based income terhadap total pendapatan meningkat dengan rasio mencapai 24,59%.
Secara industri, perbankan syariah nasional menunjukkan tren pertumbuhan positif dengan pangsa pasar yang diproyeksikan terus meningkat dari sekitar 7% menuju 10% dalam beberapa tahun ke depan. Dalam konteks ini, strategi BSI yang mengintegrasikan digitalisasi, penguatan bisnis emas, serta dukungan terhadap program pemerintah—termasuk partisipasi dalam program Makan Bergizi Gratis melalui pembiayaan Rp194,50 miliar—menempatkan perseroan pada posisi strategis untuk menjaga pertumbuhan berkelanjutan sekaligus memperluas inklusi keuangan syariah di Indonesia.












