Holding Industri Pertambangan Indonesia, MIND ID, menetapkan tahun 2026 sebagai fase krusial untuk memperkuat fondasi produksi berbagai komoditas strategis nasional. Langkah ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk memastikan keberlanjutan pasokan mineral di tengah meningkatnya permintaan global.
Keputusan tersebut didorong oleh capaian kinerja keuangan tahun buku 2025 yang melampaui target perusahaan. Meskipun berada dalam fase transisi operasional, MIND ID mampu menjaga tren pertumbuhan yang positif di hampir seluruh indikator utama.
Direktur Utama Maroef Sjamsoeddin menyampaikan bahwa hasil kinerja tersebut masih bersifat in-house dan dalam proses audit, namun menunjukkan performa yang solid. “MIND ID mencatat pendapatan sebesar Rp159 triliun atau 4% di atas target, serta EBITDA Rp42 triliun atau 3% di atas target,” ujarnya.
Pencapaian ini mencerminkan daya tahan bisnis di tengah volatilitas harga komoditas global, termasuk batu bara, nikel, dan tembaga yang mengalami fluktuasi sepanjang 2025. Strategi efisiensi operasional dan optimalisasi produksi menjadi kunci dalam menjaga profitabilitas.
Secara global, permintaan terhadap mineral strategis terus meningkat, terutama untuk mendukung transisi energi. Data terbaru menunjukkan kebutuhan nikel dunia diproyeksikan tumbuh lebih dari 20% hingga 2030, seiring meningkatnya produksi baterai kendaraan listrik dan teknologi energi bersih.
Dalam konteks tersebut, penguatan fondasi produksi pada 2026 menjadi langkah strategis bagi MIND ID untuk meningkatkan kapasitas dan efisiensi di seluruh lini bisnis. Hal ini juga sejalan dengan upaya hilirisasi industri mineral yang terus didorong pemerintah Indonesia.
Selain itu, penguatan produksi juga bertujuan menjaga stabilitas pasokan domestik sekaligus meningkatkan nilai tambah melalui pengolahan di dalam negeri. Indonesia saat ini merupakan produsen nikel terbesar dunia, dengan kontribusi lebih dari 50% pasokan global.












