Kita mengalami metamorfosis media, dulu cara berkomunikasi itu sangat sederhana hanya menggunakan lisan. Tren perkembangan media juga sama mulai media lisan kemudian berkembang menjadi media tulisan dan sekarang di era yang semakin menggeliat adanya globalisasi adanya revolusi industri dan sebagainya.
Ridwan Rustandi, dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Bandung memaparkan, masyarakat mengalami satu fase kehidupan yang disebut dengan mediamorfosis. Ada metamorfosa media yang kemudian menjadikan perangkat teknologi komunikasi dan informasi ini memberikan kemudahan dalam berbagai aktivitas keseharian masyarakat.
Sifatnya individual untuk kepentingan diri kita sendiri baik pada level yang sifatnya antar-individu maupun pada level yang sifatnya komunal kolektif. Dalam perkembangan media yang sekarang semua serba online memberikan risiko yang sangat luar biasa.
“Ada istilah konsentris risiko dari konten yang kita konsumsi dan kontak risiko yang berasal dari interaksi yang kita lakukan pada saat kita menggunakan perangkat digital,” ungkapnya dalam webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 di wilayah Kabupaten Bandung, Jawa Barat Selasa (14/9/2021).
Contoh dari sisi konsentris ada yang illegal content semacam pornografi, hoaks, hate speech dan lain sebagainya. Konten-konten berbahaya misalkan ada game online yang secara tidak langsung mengajarkan anak untuk berperilaku kasar. Konten-konten yang berdimensi pada peperangan, ujaran kebencian itu bagian dari berbahaya dan berisiko bagi anak.
Sedangkan, contact risk ada yang disebut dengan cyber grooming, pelecehan, intimidasi belum lagi illegal instruction. Misalnya anak berhubungan dengan orang yang tidak jelas di dunia internet kemudia pada akhirnya terjadi penculikan hingga perdagangan orang. Termasuk penipuan online dan juga tersusupi dengan berita hoaks dan lain sebagainya. Banyak menjadi korban, atau beberapa menjadi pelaku dari penyebaran apapun yang berkaitan dengan content risk dan contact risk.
Ridwan mengatakan, risiko online lain menjadi ketergantuangn dengan perangkat online, bukan hanya anak-anak tetapi orang dewasa yang tidak bida lepas dari ponselnya hanya untuk sekedar chatting di grup WhatsApp.
“Bagaimana seharusnya kini semua lintas usia mengatur durasi, frekuensi, atensi terhadap perangkat digital. Efeknya kalau sudah kecanduan, kita seringkali meluapkan emosi berlebihan ingin menunjukkan betapa emosi. Hingga merusak nilai-nilai adi luhur bangsa Indonesia sebagai orang timur,” ungkapnya.
Jika sudah tidak dapat menahan emosi bisa berdampak seseorang dapat berkomentar kasar hingga mem-bully seseorang. Maka dari itu, sebaiknya dalam menggunakan internet memberi waktu untuk kita fokus di dunia luar jaringan sehingga ketika di dunia maya ada yang membuat tidak nyaman kita tidak menanggapi dengan serius.
Webinar juga menghadirkan pembicara Dendy Muris (Kepala Prodi Komunikasi Institut Komunikasi dan Bisnis LSPR), Tim Hendrawan (Creative Director), dr katherine (Praktisi Kesehatan), dan Lady Kjaernett sebagai Key Opinion Leader.












