Sebanyak 73,7% atau 196,71 juta pengguna internet di Indonesia berbelanja online. Dengan total transaksi online sebesar 621 triliun. Menurut survei dari Katadata pun Indonesia masuk ke dalam 10 negara dengan pengguna e-commerce tertinggi di dunia.
“Ada dampak buruknya karena masih banyak laporan kasus penipuan online ketika berbelanja secara online,” ungkap Nindy Tri Jayanti, Entrepreneur & Penggiat UMKM, dalam webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 di Kabupaten Subang, Jawa Barat, Kamis (16/9/2021).
Saat ini telah banyak fitur-fitur yang memudahkan transaksi online secara aman. Namun, sebagai pembeli kita tetap harus waspada. Nindy menyampaikan, tips belanja online agar aman yakni dengan menerapkan beberapa hal. Di antaranya:
- Mencari tahu reputasi penjual. Hal ini meliputi testimoni, jumlah engagement, memeriksa akun Instagram, dan e-commerce online shop tersebut.
- Hindari transaksi secara langsung. Usahakan selalu menggunakan rekening bersama seperti e-commerce agar uang tidak langsung sampai ke penjual. Hal ini juga dilakukan untuk menghindari transaksi bodong.
- Hapus data pada paket. Seringkali sebagai pembeli kita terlalu semangat ketika menerima paket dari kurir berisi barang yang kita beli. Terlalu excited juga membuat kita lupa tentang data-data penting seperti nama, alamat, dan nomor telepon. Apabila transaksi berhasil, produknya sesuai, data diri kita jangan lupa untuk dihapus agar tidak disalahgunakan.
“Dilihat juga username Instagramnya sering ganti atau enggak. Ini tetap bisa dilakukan karena ada beberapa penjual yang melayani transfer secara langsung dan memang benar jualan,” jelas Nindy.
Selain itu, ada ciri-ciri online shop penipu yang perlu kita waspadai. Biasanya online shop penipu pada Instagram menjual produk dengan promosi yang tidak wajar. Perhatikan juga hastag yang digunakan. Pada akun online shop penipu, biasanya kolom komentar dimatikan atau dibatasi. Kemudian, lihat fitur tag untuk mengetahui siapa saja pembelinya.
Webinar juga menghadirkan pembicara Anthony Sudarsono (CEO First Class Property), Chari Ibrahim (CEO TMP Digital Marketing Consultant), Shanti Kusmiati (Pengurus Pusat Relawan TIK), dan Tresia Wulandari sebagai Key Opinion Leader.












