PT Bank Tabungan Negara (BTN) resmi meluncurkan BTN Loan Factory sebagai bagian dari transformasi digital untuk mempercepat proses pengajuan kredit, khususnya Kredit Pemilikan Rumah (KPR). Melalui inisiatif ini, BTN menargetkan proses persetujuan KPR dapat diselesaikan hanya dalam tiga hari dalam beberapa tahun ke depan.
Untuk tahap awal, BTN menargetkan waktu persetujuan kredit dapat ditekan menjadi lima hari pada tahun ini. Saat ini, rata-rata proses pengajuan kredit telah berhasil dipangkas menjadi enam hari, jauh lebih cepat dibandingkan sebelumnya yang mencapai sembilan hari, menandakan adanya peningkatan efisiensi operasional secara bertahap.
Direktur Utama BTN, Nixon LP Napitupulu, menekankan pentingnya perbaikan layanan kepada nasabah melalui sistem yang lebih terintegrasi. “Kami ingin melayani nasabah lebih baik… yang paling penting lagi adalah nasabah memiliki kepastian waktu,” ujarnya, menyoroti bahwa sebelumnya proses KPR di beberapa titik bahkan bisa memakan waktu lebih dari satu bulan akibat belum terpusatnya sistem.
BTN mencatat volume pengajuan KPR yang sangat besar, yakni sekitar 220 ribu hingga 250 ribu aplikasi setiap tahun. Dengan skala tersebut, transformasi menuju sistem yang terstandarisasi dan terpusat menjadi kebutuhan mendesak untuk memastikan proses berjalan lebih cepat, akurat, dan transparan.
Pengembangan Loan Factory juga diarahkan untuk meningkatkan kualitas bisnis secara keseluruhan, termasuk memperbesar booking kredit, menjaga service level agreement (SLA), serta menekan rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL). Hal ini menjadi krusial di tengah pertumbuhan kredit perbankan nasional yang menurut data OJK berada di kisaran 10–12% pada 2025.
Dari sisi efisiensi, model operasional terpusat memungkinkan optimalisasi sumber daya manusia. Dengan proses yang lebih otomatis dan terstruktur, BTN dapat mengalihkan tenaga kerja ke fungsi yang lebih produktif seperti penjualan dan pengembangan bisnis, sekaligus menekan biaya operasional.
Langkah ini juga relevan dengan kebutuhan sektor perumahan nasional yang masih tinggi. Data terbaru menunjukkan backlog perumahan di Indonesia masih berada di kisaran 12 juta unit, sementara permintaan KPR terus meningkat seiring pertumbuhan kelas menengah dan urbanisasi.
BTN Loan Factory yang berlokasi di Bekasi dan telah beroperasi sejak 6 April ini diharapkan menjadi fondasi penting dalam memperkuat posisi BTN sebagai pemain utama pembiayaan perumahan nasional. Dengan sistem yang lebih cepat, transparan, dan efisien, BTN berupaya meningkatkan daya saing sekaligus mendorong inklusi keuangan di sektor perumahan.












