Sepanjang 2025, kinerja PT Sunindo Pratama Tbk (SUNI) menunjukkan dinamika yang cukup menantang dengan laba bersih sebesar Rp191,88 miliar, turun 7% dibandingkan tahun sebelumnya Rp205,10 miliar. Meski demikian, capaian tersebut justru melampaui target revisi perusahaan hingga 112%, menandakan eksekusi bisnis tetap berada di jalur yang terkendali.
Penurunan laba tidak terlepas dari melemahnya pendapatan usaha yang turun menjadi Rp982,38 miliar dari Rp1,04 triliun pada 2024. Laba bruto juga ikut terkoreksi dari Rp320,99 miliar menjadi Rp312,37 miliar. Namun, realisasi pendapatan ini tetap melampaui target revisi sebesar 103%, mencerminkan kemampuan adaptasi perusahaan dalam menjaga performa di tengah tekanan pasar.
Direktur Utama Willy Johan Chandra menegaskan bahwa tren kinerja SUNI masih konsisten dengan rencana strategis jangka panjang. “Rata-rata penjualan maupun laba dalam beberapa tahun terakhir masih cukup baik dan berada dalam koridor rencana strategis Perseroan,” ujarnya, sekaligus menekankan bahwa laba yang terjaga mendukung ekspansi dan pembagian dividen.
Secara operasional, penurunan pendapatan terutama dipicu oleh turunnya volume penjualan OCTG casing, meskipun segmen OCTG tubing justru mengalami peningkatan. Hal ini mencerminkan pergeseran permintaan di industri energi, khususnya sektor migas, yang masih menghadapi volatilitas global.
Dari sisi fundamental, posisi keuangan perusahaan tetap solid. Total ekuitas meningkat 10% menjadi Rp863 miliar, didorong oleh akumulasi laba serta aksi korporasi berupa pembagian dividen Rp50 miliar dan buyback saham senilai Rp70 miliar. Rasio Debt to Equity Ratio (DER) juga terjaga rendah di level 0,30 kali, jauh di bawah batas ketentuan kredit sebesar 2,5 kali.
Arus kas operasional SUNI tercatat positif sebesar Rp93 miliar, meskipun turun signifikan 65% secara tahunan akibat peningkatan pembayaran kepada pemasok. Kondisi ini mencerminkan strategi perusahaan dalam menjaga rantai pasok sekaligus mengantisipasi kebutuhan produksi ke depan.
Fokus ekspansi menjadi strategi utama ke depan, khususnya melalui pengembangan pabrik kedua anak usaha RTM yang ditargetkan mulai beroperasi pada semester II-2026. Hingga saat ini, pembangunan fisik telah rampung, termasuk instalasi mesin dan proses sertifikasi API yang menjadi standar penting dalam industri OCTG.
Dengan tambahan kapasitas tersebut, SUNI optimistis dapat memperkuat posisi di pasar domestik. Hal ini relevan dengan data industri terbaru yang menunjukkan kebutuhan OCTG di Indonesia terus meningkat seiring target lifting migas nasional 1 juta barel per hari pada 2030, sementara tingkat ketergantungan impor pipa OCTG masih cukup tinggi. Uji coba produksi yang telah berjalan juga menunjukkan hasil positif, memperkuat kesiapan operasional perusahaan dalam memasuki fase ekspansi berikutnya.












